November 2007


Perempuan oh perempuan ! Pengalaman bathin para pahlawan dengan mereka ternyata jauh lebih rumit dari yang kita bayangkan. Apa yang terjadi, misalnya jika kenangan cinta hadir kembali di jalan pertaubatan seorang pahlawan? Keagungan!

Itulah, misalnya, pengalaman bathin Umar bin Abdul Aziz. Sebenarnya Umar seorang ulama, bahkan seorang mujtahid. Tapi ia dibesarkan di lingkungan istana Bani Umayyah, hidup dengan gaya hidup mereka, bukan gaya hidup seorang ulama. Ia bahkan menjadi trendsetter di lingkungan keluarga kerajaan. Shalat jamaah kadang ditunda karena ia masih sedang menyisir rambutnya.

(lagi…)

Buya Hamka yang juga ikut dalam sidang Konstituante mengatakan, “Islam adalah dasar yang asli di tanah air kita. Dan pribadi sejati bangsa Indonesia. Pancasila tidak mempunyai dasar sejarah di Indonesia.†Hamka menjelaskan, sejak abad 19 perjuangan umat Islam untuk kemerdekaan dilatarbelakangi oleh perjuangan untuk menegakkan suatu negara berdasarkan Islam. Perang yang digelorakan Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Cik Ditiro, Pangeran Antasari, Sultan Hasanuddin, dan lain-lain untuk mengusir kolonial Belanda, kata Hamka, untuk mewujudkan cita-cita negara Islam. “Kamilah yang meneruskan mereka,†tegas Hamka.

(lagi…)

Petikan dari naskah buku yang akan terbit:

KERUKUNAN BERAGAMA, DAULAT POLITIK DAN KERETA REFORMASI (Bab I)
Oleh: HD.HARYO SASONGKO

Siapa tak mengenal Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto dan Soekarno? Keduanya adalah founding father of nationalism. Tjokroaminoto yang lahir di desa Bakur, Tegalsari Ponorogo 16 Agustus 1882, adalah tokoh Sarekat Islam (SI) yang semula bernama Sarekat Dagang Islam (SDI) dan didirikan oleh Haji Samanhudi pada akhir 1911. Tjokroaminoto inilah yang melahirkan gagasan nasional-isme modern. Anak wedana Kleco Madiun Tjokroamiseno ini sejak muda sudah aktif dalam organisasi perjuangan. Tidak aneh bila dia juga menjadi tempat berguru anak-anak muda yang ingin aktif dalam perjuangan, seperti Soekarno, Abikusno, Semaun, Alimin, Musso, HA Agus Salim, Kartosuwirjo, Herman Kartowisastro, KH Mas Mansyur dan lain-lain.

Perlu dicatat bahwa beberapa nama dari sekitar 20 nama yang berguru kepadanya itu, Soekarno menjadi tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia) Abikusno Tjokrosujoso men-jadi tokoh PSII (Partai Syarikat Islam Indonesia), semen-tara Semaun, Alimin dan Musso menjadi tokoh komunis memimpin PKI (Partai Komunis Indonesia), KH Mas Mansyur aktif di Muhammadiyah dan bersama dokter Sukiman yang juga berguru pada HOS
Tjokroaminoto mendirikan Partai Islam Indonesia yang berasaskan kebangsaan. Sementara itu Kartosuwirjo kita kenal sebagai tokoh pimpinan PSII di masa penjajahan dan memimpin pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) di masa kemerdekaan, anggota Pengurus Besar Masjumi dan penggagas sekaligus pendiri Negara Islam Indonesia (NII) pada 1 Agustus 1949.

(lagi…)

Pilkada jawa barat sebentar lagi di gelar,arus politik di tingkatan elit begitu luar biasa derasnya.mulai dari partai besar sampai partai gurem sekalipun berlomba untuk menarik simpati dan juga memarketkan calonnya dengan berbagai macam cara . jawa barat adalah provinsi yang menjadi provinsi penyangga ibu kota negara yang secara geografis sangat dekat dengan ibu kota negara. dengan visi jawa barat Yaitu :

“JAWA BARAT DENGAN IMAN DAN TAQWA SEBAGAI PROVINSI TERMAJU DI INDONESIA DAN MITRA TERDEPAN IBU KOTA NEGARA TAHUN 2010.”

(lagi…)

Dampak kenaikan harga minyak dunia

Baru-baru ini kita menyaksikan tentang melambungnya harga minyak dunia , harga minyak sempat mencapai US$ 96,24 per barel setelah Departemen Energi Amerika Serikat mengumumkan stok minyak berkurang 3,9 juta barel. Untuk kontrak utama New York, minyak mentah ringan pengiriman Desember, harga minyak akhirnya ditutup pada level US$ 95,23 per barel. Minyak mentah jenis Brent Laut Utara diperdagangkan pada US$ 91,13 per barel.hal ini akan berdampak besar pada aspek Ekonomi dan politik bangsa Indonesia.

(lagi…)

02/11/2007 07:11 WIB
Didominasi Orang Tua, FPKS Kritik Deklarasi Komite Bangkit
Gagah Wijoseno

Jakarta – Sejumlah tokoh tua di antaranya Amien Rais, Taufiq Kiemas, Wiranto, dan Try Sutrisno mendeklarasikan Komite Bangkit Indonesia. Deklarasi ini dikritik karena para deklarator adalah elit politik lawas.

“Rakyat tahu persis bahwa banyak tokoh-tokoh politik yang berkumpul adalah bagian dari masa lalu dan ikut bertanggung jawab pada persoalan serius bangsa,” kata Ketua FPKS DPR Mahfudz Siddiq dalam pesan singkatnya kepada detikcom, Jumat (2/11/2007).

(lagi…)