Mei 2008


Abu Qubail menuturkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab, “Kota Heraklius-lah yang akan terkalahkan lebih dulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” [H.R. Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim]

“Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]
Jika anda terkagum-kagum dengan penggambaran perang yang ketat antara Balian of Ibelin melawan Shalahudin Al-Ayyubi di film Kingdom of Heaven [resensi Priyadi], maka perang antara Constantine XI Paleologus dengan Muhammad Al-Fatih jauh lebih ketat, tidak hanya dalam hitungan hari tapi berminggu-minggu. (lagi…)

Saat lembar-lembar sejarah dibuka, maka catatan-catatannya selalu memberikan kesimpulan yang sama; bahwa Rasulullah adalah model paling ideal dalam panggung sejarah kepemimpinan ummat manusia. Bukti ini bukan sekedar kebenaran intrinsik ummat Islam melalui doktrin wahyu; bahwa Rasulullah sebagai uswah hasanah. Lebih dari itu, progresifitas kaum Muslimin dibawah kepimpinannya; telah mengubah peta dan pusat sejarah dunia selama puluhan abad. Catatan sejarah juga menunjukkan pengakuan
akan kepemimpinan Rasulullah dari kaum Yahudi, Nashrani dan seluruh etnis/kabilah yang ada di Madinah. Pengakuan itu tertuang jelas dalam Piagam Madinah sebagai konsensus politik dari seluruh elemen penduduk Madinah.

Karena itu, sejak awal kehadirannya, muslim dengan sejarahnya telah meletakkan eksistensinya sebagai pemimpin dunia dan pengelola alam semesta. Tidak ada satu alasan historis-psikologis yang tepat bagi kaum muslimin untuk menjadikan dirinya sebagai pecundang peradaban. (lagi…)