Jakarta – Menjelang pelaksanaan Pilpres 2009, nama Kapolri Jenderal Pol Sutanto makin moncer. Apalagi, Partai Keadilan Sejahtera menyebutnya sebagai salah satu figur yang layak maju sebagai calon presiden. PKS melirik Sutanto?
Bukan sekali-dua, PKS memuji Sutanto. Ketua Badan Pemenangan Pemilu DPP PKS, Muhammad Razikun pernah memprediksi peluang Sutanto masuk penjaringan 100 calon pemimpin. Wakil Ketua Umum PKS, Al Muzammil Yusuf, bahkan menyebut Sutanto sebagai salah satu Kapolri terbaik yang dimiliki Indonesia.
Di mata Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Sutanto juga cukup mampu menjadi pemimpin Indonesia mendatang. “Saya melihat Pak Sutanto itu baik, mempuyai kapasitas dan visioner,” ujarnya kepada INILAH.COM, Jumat (12/9).
Inikah tanda PKS bakal menggiring petinggi Polri itu bermain di kancah politik? Belum tentu. Sejauh ini, PKS masih belum mewacanakan siapa calon yang akan digadang dalam kompetisi tahun depan.
Dalam sebuah percakapan, fungsionaris PKS itu mengaku saat ini pembicaraan mengenai Pilpres masih belum dilakukan. Alasannya, PKS masih menunggu hasil Pemilu legislatif terlebih dahulu. “Kami tidak ingin dibilang tidak tahu diri. Dianggap besar, ternyata hasil pemilu kecil,” ujarnya.
Siapa yang akan dipilih oleh PKS itu nantinya akan ditentukan dalam Rapat Majelis Syuro yang akan dihadiri 99 orang perwakilan dari 33 provinsi. Tetapi, tentu saja, mengajukan calon atau berkoalisi akan ditentukan dari hasil Pemilu 2009. Bila meraih 20% suara, PKS akan percaya diri mencalonkan kader dari kalangan sendiri. Bila tidak, koalisi jadi pilihan.
Sejauh ini, lanjut mantan aktivis mahasiswa itu, dukungan terhadap pencalonan SBY kembali juga masih tetap besar. Tetapi bukan tidak mungkin juga bila nantinya PKS menyalonkan Hidayat Nurwahid sebagai capres atau cawapres. “Kalau kami, diberikan tugas politik itu biasa. Tidak ada istimewanya. Kalau partai sudah menunjuk kader harus maju, ya kader tersebut tidak bisa menolak,” jelas dia.
Direktur Eksekutif Indobarometer, M Qodari, menilai peluang PKS mengambil Sutanto juga masih kecil. Menurutnya, belum ada sinyal positif dari PKS sendiri untuk mengusung Sutanto. “Biasanya PKS mengambil capres dari kader internal. Karena Sutanto bukan dari kader internal, itu masih terlalu jauh,” ujar Qodari.
Kalau pun nanti ada yang berminat mengusung Sutanto, sudah pasti pasangannya adalah tokoh yang sudah populer. Sebab, untuk mendongkrak popularitas Sutanto dalam kurun waktu kurang dari setahun cukup berat. Meski Sutanto dari segi akseptabilitas tidak mengalami kendala. Toh, Sutanto sejauh ini belum ada sandungan yang berarti.
Bisa saja PKS mengusung duet Hidayat-Sutanto dalam Pilpres mendatang. Tetapi kerja politik tentu akan sangat berat ketimbang PKS memilih pasangan yang sudah populer semisal SBY-Hidayat.
Lagi-lagi, bila PKS ingin menyeriusi Sutanto, sisa waktu yang ada tidak lagi digunakan untuk berwacana saja. Memainkan strategi dan taktik politik nyata untuk memacu ketenaran Sutanto sudah wajib dilakukan. Masalahnya memang seriuskah PKS ingin meminang Sutanto?
Oktober 30, 2008 at 2:54 pm
mimpir mas
wah… perkembangannya sekarang udah pesat mas…
sekarang udah ada 8 nominator dari pks.
terus, uu pilpres juga udah jadi….
Raja jawa juga udah deklarasi siap jadi capres
wuihhh.. dinamika yang asik untuk diikuti
ayo mas, nulis lagi ^_^