MOMENTUM INDONESIA MERETAS POLITIK PERADABAN
(Merumuskan Peran Strategis Pemuda)*

Oleh: Syamsudin Kadir/085 320 230 299
(Ketua KAMMI Wilayah Jawa Barat, Bidang Kaderisasi periode 2008-2010)

“Setiap potongan zaman mempunyai pahlawannya masing-masing.
Mereka adalah putra-putri terbaik yang dilahirkan pada potongan zamannya.
Mereka terpilih dari generasi mereka masing-masing, karena mereka adalah pemegang saham terbesar dari peristiwa-peristiwa kepahlawanan yang terjadi pada potongan zaman kehidupan mereka. Mereka juga merupakan suatu generasi sebagai akar kesinambungan sejarah sebuah generasi bahkan bangsa.Kadang juga merupakan fenomena yang bersifat diskuntinyu”

Pendahuluan
Tahun ini tepat 81 tahun kaum muda bahkan seluruh rakyat Indonesia merayakan peristiwa bersejarah mengenai kesadaran akan pentingnya berhimpun dalam satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa, yang bernama Indonesia. Kesadaran ini lahir sebagai antitesis politik Belanda yang memecah-belah sebuah bangsa besar yang hidup di Nusantara. Dengan mengikrarkan Sumpah Pemuda, sesungguhnya pemuda saat itu menunjukkan kapasitas dan kesiapannya untuk menjadi pemimpin bangsa. Kalimat persatuan dan perubahan pun menjadi slogan yang sangat terkenal di setiap institusi kepemudaan, termasuk gerakan mahasiswa. Bahkan dalam konteks masa kini, tema-tema kampanye politik Negara pun menggunakan trend perubahan. Sumpah Pemuda adalah symbol penyatuan negeri/nangroe/nagari-nagari nusantara menjadi Indonesia yang 17 tahun kemudian –tepatnya tahun ’45- merdeka untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang: Melindungi segenap bangsa Indonesia, Memajukan kesejahteraan umum, Mencerdaskan kehidupan bangsa, dan Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, peradamaian abadi dan keadilan sosial.

Sejarah suatu bangsa selalu dimulai dengan sebuah judul yang bercerita tentang peran besar para pemuda. Tak peduli apa itu sebuah revolusi atau sebuah reformasi, maka pemuda selalu menjadi aktor sejarah yang senantiasa hadir ketika suatu bangsa membutuhkan ide besar dalam perjuangannya. Ide besar yang muncul dari sebuah inspirasi murni yang keluar dari akal dan nurani bersih yang dimiliki para pemuda. Inspirasi besar yang memunculkan ide-ide besar dan pada akhirnya menghasilkan kinerja-kinerja besar untuk mengubah arah haluan sejarah suatu bangsa. Mereka tidak hanya memulai perubahan tapi juga mengisi perubahan itu dan menuntaskannya. Maka dari itu sepertinya wajar jika dikatakan bahwa takdir sejarah senantiasa hinggap di tangan para pemuda.
Sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda. Tesis Anderson perihal revolusi pemuda zaman kemerdekaan tidak pernah mati. Ben Anderson lebih percaya bahwa pemudalah motor penggerak revolusi Indonesia, bukan para elite (Pemuda Revolution, 1967). Cerita ini menjadi legenda sekaligus basis praksis peran politik pemuda. Generasi 66, 74, dan 98 -bahkan sampai 2008- merevitalisasi narasi tersebut menjadi sebuah mitos perlawanan yang tak pernah padam. Pemuda adalah simbol kekuatan pergantian rezim yang korup. Namun, agaknya narasi tersebut kini mesti dirumuskan kembali. Kini kita kembali mengalami krisis. Krisis global yang tidak mengenal batas. Pemerintahan yang dikelola dengan baik pun tak lepas dari dampak krisis. Di mana pemuda berada? Tepatkah jika dikatakan di masa lalu pemuda menunggangi krisis untuk aksi politik? Di manakah spirit pemuda itu diletakkan? Masih adakah ide besar –semacam narasi- atau trend baru yang dimiliki oleh generasi pemuda saat ini? Kalau masih ada, lalu, di manakah mereka berada? Apa yang sedang mereka kerjakan? Atau ide besar atau trend apa yang ingin mereka perankan?
Teoritisasi Trend Gerakan
Menentukan peran strategis pemuda periode ini dan ke depan tidak dapat dilepaskan dari posisi sejarah panjang gerkan pemuda dalam berbagai dimensinya. Hal ini penting agar kita mengetahui posisi strategis kita dalam sejarah kebangkitan Indonesia. Setidaknya gerakan pemuda dapat kita dudukan dalam beberapa dimensi gerakan, yakni sebagai gerakan mahasiswa, gerakan kebangsaan, dan gerakan internasional. Baik gerakan pemuda sebagai gerakan mahasiswa, kebangsaan, maupun internasional, pada hakikatnya perjuangan pergerakan pemuda bersifat terpadu (integral), tidak diartikan secara terpisah (secular). Begitu pula gerakan mahasiswa tidak bisa dilihat dari sisi ke-mahasiswaannya saja. Gerakan mahasiswa perlu menempatkan diri sebagai bagian inheren dari arus besar anasir perubahan, baik ia sebagai gerakan mahasiswa, kebangsaan, maupun internasional. Jadi, di sini gerakan pemuda harus menyadari bahwa sejarah gerakannya adalah bagian dari kelanjutan sejarah gerakan mahasiswa, gerakan kebangsaan, dan gerakan internasional sebelumya.
Sekali lagi, tahun ini tepat 81 tahun kaum muda Indonesia merayakan peristiwa bersejarah mengenai kesadaran akan pentingnya berhimpun dalam satu bangsa, satu nusa, dan satu bahasa, yang bernama Indonesia. Kesadaran ini lahir sebagai antitesis politik Belanda yang memecah-belah sebuah bangsa besar yang hidup di Nusantara. Dengan mengikrarkan sumpah pemuda, sesungguhnya pemuda saat itu menunjukkan kapasitas dan kesiapannya untuk menjadi pemimpin bangsa. Gagasan sumpah pemuda merupakan narasi besar yang mendorong manusia di Nusantara terbawa arus perubahan yang tak terbendung. Orang-orang yang hidup dengan berbagai bahasa dengan kesadarannya belajar dan mau menggunakan bahasa Indonesia. Narasi besar kaum muda tidak berhenti di situ. Mereka juga mewujudkannya dalam satu langkah besar, yakni deklarasi Indonesia merdeka. Sejarah mencatat jika pemuda tidak mendesak Soekarno dan Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945 mungkin sampai saat ini Indonesia masih terjajah. Indonesia merdeka adalah narasi besar yang hinggap di seluruh sanubari rakyat. Indonesia sehingga mereka rela berkorban untuk Indonesia merdeka.
Peran pemuda Indonesia, baik sebelum maupun sesudah kemerdekaan, tidak terbantahkan lagi. Jejak sejarah kaum muda pascakemerdekaan dapat kita lihat misalnya ketika Sudirman menjadi jenderal pertama dan sekaligus panglima di republik ini dalam usia masih sangat muda. Sudirman adalah kaum muda yang telah memimpin pergerakan Indonesia melawan Belanda dengan keberanian, kecerdasan, dan keikhlasan yang luar biasa sehingga pantas jika namanya begitu melegenda. Dengan prestasi kaum muda Indonesia ini, tidak berlebihan jika Ben Anderson, pengamat politik Indonesia, meyakini sejarah Indonesia adalah sejarah pergerakan kaum muda. Dalam setiap fase sejarah, kepemimpinan kaum muda adalah motor penggerak perubahan zaman. Ben Anderson mengatakan, “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini.” Apa yang telah disimpulkan oleh Ben Anderson sedianya cukup bagi kaum muda untuk berani bergerak ke tengah dan berkompetisi merebut kebangkitan bangsa ini. Kaum muda memiliki modal sejarah yang sangat besar bagi kelahiran dan pembangunan bangsa. Sudah tiba masanya kaum muda tidak hanya berhenti menjadi saksi perebutan kursi yang dilakukan kaum tua. Bukan lagi waktunya kaum muda hanya bertindak sebagai operator dari generasi yang terbukti gagal, kemudian berusaha merebut kekuasaan kembali. Tetapi, harus mampu melahirkan generasi kepemimpinan baru yang lebih mampu memberi harapan dan perubahan. Itu tidak lain ada di tangan kaum muda Indonesia.
Dalam mengeksekusi peran itu yang mesti kita tunaikan adalah membangun beberapa ide tentang masa depan. Tapi sebelumnya, sebagai awalan perlu disampaikan bahwa tulisan ini dipersembahkan sebagai rintihan atau refleksi provokatif. Adapun bila ada ide besar selain itu, itu hanyalah ongkos yang kita peroleh dari kesungguhan yang kita tunaikan. Agar jangan ada lagi yang tidak berkesempatan untuk berbicara mengenai apa yang mesti mereka berikan untuk kebaikan bangsa ini di masa depan. Agar jangan ada lagi generasi yang mati rasa atas kegamangan dirinya pada kondisi bangsa yang menyebalkan. Agar jangan ada lagi jarak antara kita dengan negeri kita sendiri. Adalah saat ini menjadi kesempatan terbaik bagi kita untuk merubah cara berpikir kita selama ini, yang terlalu termarjinalkan dari pikiran-pikiran positif dan konstruktif. “Setiap massa ada orangnya”, begitu pepatah Arab mengatakan. Ketika bangsa ini terpuruk oleh beragam citra negatif di dunia internasional, seperti citra pelanggar HAM, negara terkorup, negara dengan tingkat daya saing rendah, dan berbagai citra negatif lainnya, kaum mudalah yang dapat diandalkan mengklarifikasi semua citra negatif itu dengan prestasinya. Kaum muda berkali-kali diharapkan melakukan perubahan dan menjaga eksistensi citra baik Indonesia. Bergulirnya reformasi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan. Perubahan itu hendaknya mendorong kaum muda untuk dinamis dan cerdas membaca realitas zaman. Tentu tidak mungkin menggunakan paradigma lama untuk menyelesaikan persoalan hari ini. Sebagaimana dikatakan oleh Peter Drucker, seorang ahli manajemen modern, masalah terbesar dalam menghadapi krisis bukan terletak pada krisis itu sendiri. Masalah terbesar adalah ketika kita menyelesaikan krisis hari ini dengan logika masa lalu.
Momentum dan Trend Gerakan Pemuda Masa Depan
Dalam bukunya The Extreme Future, James Canton mengatakan, ”Para pemburu masa depan adalah pemimpin, inovator dan penjelajah di masa depan. Mereka menjadi pemandu jalan bagi yang lain, yang akan mengikuti tabiat atau keberhasilan mereka. Mereka inilah kelompok yang paling punya kesiapan masa depan dan paling gesit. Kelompok ini ditakdirkan menjadi kontributor produktif bagi masyarakat dan pada saat yang sama meraih kepuasaan individu. Para pemburu masa depan adalah orang yang punya ambisi dan cara pandang positif terhadap masa depan. Mereka punya tujuan yang jelas…..Mereka adalah pihak yang paling siap menghadapi tantangan-tantangan masa depan”. Pernyataan ini mengingatkan kita mengenai banyak hal. Yang jelas, setiap zaman ada iconnya. Dan karenanya, setiap masa depan ada pemburunya. Namun, pemburu masa depan tentu mempunyai kapasitas dan kompetensinya. Untuk itulah mengkalkulasi kompetensi dan kemampuan mengelolanya menjadi penting, bahkan mesti menjadi agenda utama. Terlebih jika kita memiliki obsesi sekaligus tekad yang kuat untuk menemukan sesuatu yang mencerahkan di masa depan.
Dalam konteks merumuskan masa depan gerakan pemuda, menelaah tulisan Abdul Firman Ashaf sangat relevan. Dalam tulisannya yang berjudul Runtuhnya Sebuah Mitos dia mengungkapkan bahwa, “setidaknya ada dua momentum yang membuat mitos tersebut terkoreksi dengan sendirinya: Aspek struktural dan sosok pemuda. Pertama, mitos peran pemuda dalam perubahan sebenarnya mirip dengan gerakan sosial lain. Gerakan sosial terjebak logika perlawanan terhadap negara, alih-alih penguatan masyarakat. Pada akhirnya para pemuda mengembangkan retorika perlawanan yang melawan kecenderungan negara yang proteksionis, nasionalis, dan kecenderungan stabilisasi…”
Momentum di atas dapat dijadikan pijakan untuk memformulasi kembali model gerakan yang mengarah pada rekonstruksi kebangsaan. Catatan yang bisa diberikan pada momentum pertama adalah dibutuhkan pergeseran dari peran “perlawanan” terhadap negara menuju peran “penyelamatan” bangsa. Perihal momentum yang kedua, kita bisa becermin bahwa jika lahirnya pemimpin muda sebagai keniscayaan, maka spirit tersebut bisa kita reguk dari para Founding Fathers yang maju ke arena politik dengan kekuatan intelektual. Jika meluaskan medan perjuangan untuk perubahan, mengapa tidak memilih menjadi intelektual yang bertujuan menginspirasi banyak orang? Siapa yang meragukan kekuatan gagasan? Di tengah krisis, publik membutuhkan inspirasi. Bukan semata membangun image di layar kaca, sekaligus membodohi publik. Ayo, siapa berminat jadi intelektual?
Menurut Rijalul Imam , “hari ini gerakan pemuda mendapatkan momentumnya yang tepat, yakni hadir di era baru. Periode ini merupakan kelanjutan sejarah masa lalu dan kini –dalam konteks reformasi- hadir menjelang awal dekade kedua reformasi (2010) atau sepuluh tahun kedua pasca ’98. Pada tahun 2009 ini gerakan pemuda –kembali- hadir di masa transisi pergantian kepemimpinan nasional. Tahun 2009 ini adalah tahun terakhir atau ‘bergugurannya’ tokoh-tokoh tua yang menyulitkannya bertarung di pemilu 2014, karena faktor usia dan dibatasi periode kekuasaan. Seolah-olah ini mengindikasikan akan terjadinya pergantian generasi dalam fase 5 tahun ke depan. Kita juga hadir di abad ke-21 dengan berbagai kemudahan fasilitas beserta krisis global yang akan dihadapinya; serta kita pun hadir di zaman peralihan peradaban dari Barat ke Timur, dengan merosotnya Amerika Serikat di pamor dunia dan kebangkitan Cina dan India yang berpotensi men-take over kepemimpinan ekonomi global”. Di sinilah maka, gerakan pemuda di mana gerakan mahasiswa ada di dalamnya harus dapat mengkonsolidasikan kekuatannya secara nasional; mempertegas identitasnya sebagai gerakan mahasiswa, kebangsaan dan internasional serta penguatan jaringan dan komunikasi seluas-luasnya di level nasional dan global.
Untuk itu, saat ini tampaknya kita perlu berani menetapkan trend yang akan dibangun sekarang dan di masa yang akan datang. Berbicara trend gerakan mahasiswa ke depan memang bersifat unpredictable, di samping itu perlu dilakukan penelitian mendalam. Namun fenomena yang terjadi sekarang terkadang hasil penelitian kerap kali berubah cepat seiring dengan perubahan global yang demikian cepat juga. Karena itu dalam posisi dan situasi seperti ini yang perlu dikedepankan adalah keberanian mengajukan narasi gerakan untuk membuat setting trend gerakan (trend setter) baru untuk masa depan. Trend gerakan pemuda (red.mahasiswa) ke depan yang perlu kita bangun setidaknya ada tiga hal: yakni kombinasi antara Gerakan Mahasiswa Berbasis Riset dan Gerakan Mahasiswa Berbasis Kompetensi serta Gerakan Mahasiswa Bermental Interpreneur.
Negara saat ini tengah di persimpangan sejarah. Bergerak tanpa narasi besar di tengah arus besar peralihan peradaban dunia. Kehilangan narasi besar ini menjadi pertanyaan mendasar, mau dibawa ke mana Indonesia tercinta ini? Di situasi seperti ini dibutuhkan anak-anak muda yang berani mengajukan narasi gerakannya sebagai stimulus bagi kemunculan situasi baru. Gerakan mahasiswa mengalami kehilangan orientasi ketika tarikan elit begitu kuat, alih-alih menjaga kesejatiannya sebagai gerakan intelektual, malah terjebak menjadi gerakan partisan. Gerakan mahasiswa semakin minim melakukan kajian politik, karena itu lebih banyak terjebak (dalam) menjadi pe(r)main (an) politik. Situasi ini harus segera dipulihkan agar gerakan mahasiswa yang notabene adalah manusia berusia produktif dapat berperan jauh lebih besar ketimbang dalam politik pragmatis. Trend Gerakan Riset dan Kompetensi harus segera dimassifkan di kalangan aktivis mahasiswa. Trend gerakan riset dan kompetensi ini pada hakikatnya adalah trend yang menyatukan elemen-elemen bangsa di aras pengetahuan. Karena perbedaan selalu dapat diselesaikan dalam titik temu pengetahuan. Gairah trend gerakan riset dan kompetensi juga akan menjadi progresif dengan membuka jaringan internasional di bidang riset dan pengembangan kapasitas pengalaman kader di kancah internasional. Faktanya adalah bahwa kemajuan bangsa-bangsa (Eropa) dan beberapa Negara Asia terjadi karena mereka bertumpu pada kualitas Brain Drain Circulation (sirkulasi orang-orang cerdas di dunia).
Jadi, gerakan berbasis riset dan berbasis kompetensi adalah dua hal yang urgen untuk dimulai, terlebih bila ke depan Perguruan Tinggi kita dorong untuk berada di bawah Menristek tidak di bawah Mendiknas, agar Perguruan Tinggi kita berlevel kampus riset yang memiliki daya saing global, sebagaimana di Malaysia dan Jerman. Visi pendidikan harus segera diubah, tidak terjebak pada menyiapkan tenaga kerja global (global employee), melainkan menyiapkan para pemimpin global berbasis kompetensi (the global future leaders base on talent).
Narasi Baru: Sebuah Refleksi Untuk Masa Depan
Kerisauan kita, kerisauan bangsa ini saat ini adalah bahwa ketika akhir-akhir ini krisis besar melanda negeri ini, kita justru mengalami kelangkaan generasi handal, semacam pahlawan yang membawa kita alam ruang perubahan. Dengan demikian, ini merupaka isyarat kematian kita sebagai sebuah bangsa. Pahlawan yang kita nantikan tentu bukan sekedar yang mampu membawa kita keluar dari krisis besar atau pahlawan di medan gawat, tapi jauh lebih luas lagi bentangnya – pahlawan dunia pemikiran, pendidikan, keilmuan, kebudayaan dan peradaban.
Apapun yang kita impikan, semuanya kita tunaikan agar kita tidak panik dengan keterbelakangan, supaya kita tidak dibuat bertengkar oleh masalah-masalah kecil, supaya kita tidak dibuat terpecah-pecah oleh perkara-perkara yang membuat kita tidak pernah menjadi bangsa yang besar, supaya kita tidak terpisah-pisah oleh tersekat-sekat kecil dan tipis di antara kita. Saat ini, pada acara dialog atau diskusi ini, adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk menyatakan dengan lantang atau menegaskan secara terbuka bahwa generasi muda (KAMMI, HMI, PMII, IMM, HIMA PERSIS, HIMA PUI, GMKI, BEM dan lain sebagainya), seluruh rakyat dan para pemimpin negeri ini mesti bangun dari tidurnya untuk selanjutnya melantangkan suara kebangkitan: Wahai Indonesia, bangkit dan bersatulah, perubahan itu masih ada!
Sejarah bangsa ini adalah gerita tentang kontribusi dan karya yang tak mengenal jedah. Karena itu juga kita perlu mendefenisikan sejarah sebagai industri para pahlawan. Pahlawan adalah mereka yang memberi segalanya tanpa menanti penghargaan, bahkan mereka sudah tidak membutuhkan penghargaan. Mereka selalu muncul di saat-saat sulit, atau sengaja (Allah) lahir (kan mereka) di tengah situasi yang sulit. Yang membedakan mereka dengan pahlawan gadungan terletak pada satu titik tumpu: keikhlasan. Itu saja. Selain itu semuanya rata-rata sama. Sama-sama mengorbankan ide, harta, waktu bahkan nyawa. Yang satu menikmati surga, yang keduanya mati dalam keadaan kedurjanaan. Tentu yang paling penting adalah bahwasannya –meminjam ungkapan Anis Matta– “pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaa-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis”. Masih menurut Anis Matta, “mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa yang berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk meberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya. Mereka merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung. Karya kepahlawanan adalah tabungan jiwa dalam masa yang lama”.
Generasi masa lalu, generasi tua bahkan realitas sosial memberi kita pelajaran, memberi kita kenyataan bahwa bangsa ini tidak dibangun di atas dasar keterpecahan komunitas bangsa ini, karena justru bangsa ini dibangun atas dasar persatuan setiap generasi, setiap komunitas anak bangsa. Adalah saat ini merupakan kesempatan terbaik bagi kita untuk mengatakan bahwa keragaman gerakan adalah keniscayaan, bahwa keragaman adalah khazanah sekaligus anugrah. Bahkan, bangsa ini dibangun di atas rahim keragaman. Karenanya kita mesti menyuarakan ide mengenai persatuan, ide mengenai kontribusi, ide mengenai integrasinya potensi-potensi anak bangsa ini, agar semuanya menjadi potensi kolektif yang kuat, untuk kemudian memproklamirkan diri secara terbuka di ruang publik: kami siap menata ulang taman indah Indonesia!
Bangsa ini terlalu lama hidup dalam kesengsaraan politik, budaya dan kefakuman kebangkitan. Hari ini adalah kesempatan terbaik bagi kita untuk duduk bersama dalam ruang lebar dan mengepakkan sayap-sayap perubahan dalam ruang yang lebih luas: Indonesia. Negeri ini adalah rumah kita sendiri dan bukan milik orang lain. Perasaan memiliki negeri ini mestinya kita tunaikan seperti kita merasa memiliki tangan, mata, telinga bahan semua apa yang kita miliki. Itulah cara terbaik dalam menempatkan bangsa ini dalam ruang perasaan kita. Karena kita hadir di negeri ini bukan kebetulan atau bahkan dipaksa sejarah, karena sesungguhnya kita hadir di negeri ini atas dasar izin Allah, di mana nantinya kita menjadi batu-bata sekaligus air yang menjadi fondasi sekaligus penyejuk keberagaman bangsa ini. Kita semua adalah anugrah bagi negeri ini untuk masa depannya yang gemilang, sekaligus untuk peran strategisnya di pentas peradaban dunia sebagai juru bicara terbaik Asia bagi kebangkitan dunia di masa depan.
Ide dan sikap-sikap kerdil adalah tembok penghalang yang mesti kita hancurkan. Ia mesti dijauhkan dari pikiran dan sikap-sikap kita. Bangsa ini tidak dilahirkan untuk menghidupi orang-orang yang suka berkerumun, menggibah saudara sebangsa dan setanah air. Jika saat ini, ide-dan sikap-sikap tersebut masih terbesit dalam pikiran dan terlihat dalam tingkah kita, maka saat ini juga, saat ini juga: lenyapkan. Jika saat ini kita melihat organisasi apapun masih menyimpan pikiran atau sikap-sikap picik seperti itu, maka saat ini juga kita sampaikan kepada mereka: “kalian adalah manusia kerdil dan sampah yang tidak memiliki apa-apa di mata Allah dan bangsa ini bahkan pada saat kalian merasa memiliki apa-apa di mata manusia atau bahkan di mata kalian sendiri. Sesungguhnya kalian telah mati sebelum fisik kalian mati!”
Sesungguhnya bangsa ini dibangun dan didirikan di atas ide besar, tekad dan semangat, sikap dan akhlak terpuji. Karena itu, sekarang mesti kita bangun kembali dengan dan untuk mereka-mereka yang memiliki ide besar, memiliki tekad dan semangat, memiliki sikap dan akhlak terpuji, bukan untuk mereka yang sombong dan angkuh di balik ketulusan wajah dan fisik mereka. Sebab, negeri ini adalah jembatan bagi kita semua untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. dan bukan untuk menduakan-Nya. Untuk selanjutnya biarlah kita berikrar: kami adalah generasi petualang yang akan terus berkorban memberikan yang terbaik bagi kejayaan bangsa ini dan bahkan untuk peradaban dunia, untuk saat ini dan di masa depan. Rakyat negeri ini bahkan dunia global sedang menanti kontribusi, menunggu keikhlasan kaki kita untuk melangkah. Karena sesungguhnya negeri ini adalah juru bicara terbaik bangsa-bangsa Asia-Afrika yang pernah ada dalam sejarah kemanusiaan bangsa-bangsa dunia. Gedung Merdeka Jalan Asia-Afrika di alun-alun Kota Bandung masih menjadi saksi dan akan terus menjadi saksi, bahwa di masa lalu kita pernah menjadi ‘lidah’ sekaligus ‘macan’ tunggal yang memproklamirkan kemerdekaan sekaligus kebangkitan bagi bangsa-bangsa terjajah. Bahwa semua negera, semua bangsa dan setiap komunitas kemanusiaan memiliki hak yang sama untuk hidup dan menata dirinya menjadi sebuah raksasa kebaikan untuk bangsanya sendiri bahkan untuk kebangkitan dunia. Artinya, hari ini kita juga mesti memproklamirkan, mendeklarasikan dan mengatraktifkan hal yang sama: menjadi kontributir terbaik bagi kejayaan bangsa-bangsa dan peradaban dunia.
Kita adalah potret masa depan bangsa ini. Kita adalah wajah masa depan negeri ini. Kita bahkan wajah masa depan peradaban dunia. Negeri ini adalah salah satu negara terbesar di dunia. Karena itu, sekali lagi, kita, negeri ini adalah wajah masa depan peradaban dunia. Kalau dulu negeri ini pernah menjadi juru bicara kebaikan Asia-Afrika di pentas politik global, maka saat ini, maka saat ini juga, kita mesti mengulangi peran itu. Maka saat ini, adalah giliran bagi kita semua untuk: tidak sekedar menjayakan bangsa ini saja tapi juga untuk peradaban dunia yang mulai terseok-seok oleh keangkuhan negera-negara adi daya.
Perubahan negeri ini, bahkan kebangkitan sebuah peradaban adalah akumulasi dari kerja-kerja antara generasi. Karena itu, kita sebagai generasi muda mesti berpikir bahwa kita adalah generasi baru, kita adalah tim impian yang akan menata kembali bangsa ini bahkan peradaban dunia. Saat ini yang kita bicarakan adalah persamaan, bahwa kita memiliki sejarah yang sama: pernah dijajah dan merdeka karena soliditas yang kuat. Hari ini, pada saat diskusi atau dialog ini, kita bicara mengenai persamaan, ide, narasi, kinerja, karya, kemampuan, kekompakan, dan tim besar. Jadi, yang diperlukan bangsa ini saat ini dan ke depan adalah generasi muda yang memiliki keunggulan tekad dan semangat. Karena itu juga, dalam konteks ini organisasi-organisasi gerakan pemuda yang ada idealnya memandang dirinya (hanyalah) organisasi yang tidak lebih besar dari yang lain, karena dalam konteks keragaman gerakan pemuda hanyalah setetes air di lautan Indonesia, hanyalah sedikit darah dari banyak darah yang pernah tumpah di negeri ini, hanyalah sedikit air mata yang pernah mengalir di negeri ini, hanyalah sedikit ide yang pernah berkecamuk di negeri ini. Jadi, sekali lagi, yang dibutuhkan oleh negeri ini sekarang dan ke depan adalah bukan organisasi kacangan yang mudah goyah orientasinya karena uang dan kekuasaan sesaat, tapi yang komitmen dan konsisten dengan nilai-nilai kebaikan dan keluhuran cita-cita organisasi dan bangsanya.
Karena itu juga, kita mesti memahami paradigm gerakan bahwa di organisasi pemuda Islam ada orang sholeh, di organisasi lain pun ada orang yang mampu melakukan kebaikan. Di organisasi pemuda Islam ada orang cerdas dan pintar, di organisasi lain pun ada orang cerdas dan pintar. Di organisasi pemuda Islam ada kebaikan dan ide besar, di organisasi lain pun ada kebaikan dan ide besar. Karena itu, organisasi pemuda Islam idealnya mesti merasa bahwa negeri ini tidak bisa ditata oleh organisasi pemuda Islam sendiri. Karena itu organisasi pemuda Islam mesti menyadari bahwa di samping organisasi pemuda Islam masih ada organisasi lain yang memiliki ide besar untuk bangsa ini. Karena itu, saat ini atas nama pemuda Indonesia, KAMMI mengajak kita semua untuk keluar dari kandang kita masing-masing dan bertemu pada sebuah lapangan yang lebih luas, untuk meneriakan suatu kalimat: Masa Depan Indonesia. Dan biarlah di lapangan yang luas itu kita menggunakan baju kita masing-masing, dengan warna yang berbeda-beda, dengan keunikan masing-masing, tapi dengan satu semangat yang sama, karena hanya ada satu kata: Indonesia.
Jangan pernah mengatakan atau terbesit untuk mengatakan bahwa kita adalah generasi lemah titisan generasi tua yang mendahului kita. Karena sesungguhnya kita adalah generasi baru yang hidup dalam fase baru bangsa ini, fase keberdayaan, fase kebangkitannya. Jangan bungkus tekad kita dalam kamar tidur lelap kemalasan dan keloyoan. Jangan pupus semangat perjuangan kita dalam keletihan dan kelelahan yang kita alami. Karena di dalam tekad dan semangat ada keberdayaan sebagai syarat negeri ini bangkit menemui takdir kejayaannya. Walaupun berdasarkan hukum ‘Langit’ sebenarnya ia datang dengan atau tanpa kita. Iya, kejayaan akan datang dengan atau tanpa kita. Kebangkitan pemuda dan bangsa ini bahkan dunia di masa depan adalah sebuah kenyataan yang segera kita peroleh. Kerja kita saat ini adalah menunaikan syarat-syaratnya, agar ia menjadi kenyataan. Kita tentu percaya bahwa itulah ide besar pemuda, mengapa kemudian gerakan pemuda melakukan “Sumpah Pemuda” 81 tahun yang lalu. Bahkan mengapa kemudian kita berdialog dan berdiskusi di sini saat ini.
Semangat itu akan terus berkobar, potensi-potensi itu akan terus difungsikan, sehingga ia –mengutip judul buku Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara- menjadi “api sejarah” yang akan terus menggelora di atas bara kebangkitan Indonesia. Yang jelas, jika bangsa ini terhimpit dan terlilit oleh problematika kehidupan, sesungguhnya, yang dapat membuatnya bertahan dan bangkit adalah harapan kita; generasi muda. Sebaliknya, yang akan membuat bangsa ini kalah atau bahkan mematikan daya dan energinya adalah saat di mana kita sebagai generasi muda kehilangan harapan. Maka, ketika kita berdo’a kepada Allah, sesungguhnya kita sedang mendekati sumber dari semua kekuatan. Dan apa yang segera terbangun dalam jiwa kita adalah harapan. Harapan itulah kelak yang akan membangun kemauan. Jika kemauan kita menguat menjadi azam (tekad), itulah saatnya kita melihat gelombang tenaga jiwa yang dahsyat. Gelombang yang akan memberi kita daya dan energi kehidupan serta menggerakan segenap raga kita untuk bertindak. Dan apa yang kita butuhkan saat itu hanyalah mempertemukan kehendak kita dengan kehendak Allah melalui do’a dan tawakal.
Sebagai penutup, ada baiknya jika kita merenungi kembali apa yang disampaikan oleh M. Natsir dalam tulisannya ‘Revolusi Indonesia’ pada buku Capita Selecta (1954) berikut ini:
”Saat kita mencari-cari jalan.
Kita harus menjawab pertanyaan
‘Hendak kita isi dengan apa Negara ini?
Bagaimana mengisi kemerdekaan itu?’
Pertanyaan-pertanyaan demikian harus kita jawab,
untuk kepentingan generasi yang di belakang,
para pemuda dan pemudi yang akan menggantikan kita”.
Tentu gagasan ini tidak perlu diukur dengan tiras besar. Tapi jika ada satu hati yang mulai tergerak dan mulai bekerja, atas nama pemuda dan rakyat Indonesia, KAMMI perlu mengajak semua orang untuk menyampaikan do’a kepada Allah: “Ya Allah, kami siap menata ulang taman indah Indonesia, dan jadikalah kerja kecil ini sebagai kendaraan yang akan mengantarkan kami menuju ridho dan surga-Mu!”

* Sebagai prolog pada acara Diskusi/Dialog Pemuda dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-81; yang dihadiri oleh seluruh elemen pemuda Indonesia dari berbagai organ kepemudaan yang diselenggarakan di Kampus Universitas Pasundan Kota Bandung Jawa Barat, 28 Oktober 2009.