RSS

seputar pertanyaan tentang demokrasi (part 1)

26 Mar

Demokrasi adalah salah satu paham yangbanyak di polemikkan dan di perdebatkan. Dalam penggunaannya secara terminologis dan politis,demokrasi memiliki definisi tidak kurang dari 300 macam. Dan demokratis di suatu Negara belum tentu demokratis di Negara lain. Ada beberapa hal yang menjadi perdebatan dalam demokrasi,di bawah ini ada beberapa hal yang sering kali menjadi perdebatan di antara aktivis muslim. Pada kesempatan hari ini saya akan menjawab pertanyaan yang sudah puluhan atau bahkan ratusan kali di pertanyakan dalam setiap diskusi atau forum selama saya aktif di berbagai organisasi baik di kampus maupun du luar kampus.

1. Demokrasi adalah cara kafir dan system kufur haram mengikutinya

Demokrasi adalah cara kafir haram mengikutinya,memakai istilahnya da aktif di dalamnya demokrasi sebagaimana adapt-adat dan system-sistemyang ada, yang di hasilkan oleh non muslim tidak serta merta semuanya buruk sebagaimana mata uang ada sisi baiknya dan ada sisi buruknya. Yang tidak sesuai dengan islam kita modifikasi atau kita buang sama sekali. Kita pakai saja yang secara sharih dan shahih dan tidak bertentangan dengan islam.dan inilah contoh-contoh bahwa tidak semua cara-cara yang di hasilkan oleh orang kafirserta merta haram dan terlarang.
Contoh pertama : adalah masalah ijba, yaotu masalah tata cara, gaya menggauli seorang istri dari arah belakang,tetapi tujuannya tetap kepada kemaluannya bukan kepada duburnya. Para shohabiyah anshor awalnya protes setelah menikah dengan para muhajirin. Mereka memprotes langsung kepada rasulullah,”Ya rasulullah mengapa suami-suami kami mendatangi kami dengan cara orang kafir,saya tidak mau ya rasulullah? Lalu rasul menjawab dengan ayat, “istri-istri kamu ibarat sawah/lading bagimu.datangilah dari berbagai macam arah yang kamu sukai asal sesuai dengan tujuannya”. Dan dengan turunnnya ayat tersebut gugurlah fitnah dan tuduhan orang yahudi bahwa menggauli istri dari arah belakang akan melahirkan nak yang juling.

Contoh kedua : ide perang parit (khandaq).adalah ide atau cara orang kafir ( dari Persia ).tetapi rasul tidak melarangnnya,malah mempergunakannya.
Contoh ketiga : rasulullah memanfaatkan tawanan perang badar dan orang-orang musyrik yang bisa baca tulis untuk mengajari putra-putra islam.inilah yang di sebut hikmah. Dan hikmah adalah barang berharga yang hilang dari seorang mukmin. Dan orang mukmin lebih berhak atas barang ( hikmah ) tersebut.

Contoh lainnya seperti stempel,penjara,rumah sakit,kampus,karang taruna,ormas,orpol,yayasan

. Dan orang yang bermasalah sajalah yang mengatakan semua contoh di atas adalah bid’ah dan haram karena dahulu dalam pemerintahan yang belum terlaksana tidak ada pada zaman rasul dan produk orang-orang kafir.

2. Haram aktif di dalamnya

Demo, parlemen,pemerintahan,birokrasi,pemilu adalah bagian demokrasi. Maka umat islam haram aktif di dalamnya, benarkan demikian?lalu alas an apa yang membuat kita dapat berkiprah dan terlibat dalam parlemen? Jihad yang paling afdhol adalah mengucapkan kalimat haqq di hadapan sultan (penguasa) yang zhalim ( HR. Abu Dawud ). Hadits ini dari banyak hadits sohih lain semisal “ barangsiapa yang melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangan ( kekuasaan) dan apabila tidak bisa dengan lisannya dan apabila tidak bisa maka dengan hati tapi itu selemah-lemahnya iman “( HR Bukhari ).

Kalau kita cermati maknannya lebih dekat kepada orang-orang yang berdakwah di lingkungan kekuasaaan atau penguasa “sebab kalimat haqq bisa langsung kita sampaikan kepada penguasa apabila ada penyelewengan atau kemungkaran dan itu sebaik-baiknya jihad. Lalau apakah orang-orang di luar parlemen bisa menyampaikan kalimat haqq.di sidang-sidang komisi, pertemuan-pertemuan tertutup Dewan dan penentuan APBD kalau bukan dewan paling-paling mereka hanya bisa menggerutu dan demo setelah ada salah satu kebijakan yang merugikan kaum muslimin tanpa bisa merubah dan bertarung sengit untuk menentang kesalahan atau kemungkaran, semisal UU terorisme yang berakibat ditangkapnya semena-mena aktifis islam. Dan itulah akibat yang aneh tersebut.

Sehingga suara aktifis gembos yang berakibat kalah dalam voting karena suara kita kalah banyak dengan konspirasi musuh islam. Bukanjah “alkufru millatun wahidah” dan masih banyak contoh lagi kerugian akibat fatwa-fatawa tersebut menjelang pemilu dan mereka bangga teleh berhasil “memurnikan islam” yang mengakibatkan menangnya PDIP serta konconya dan golputnya. Akankah kemudian umat islam terus di manfaatkan oleh musuh-musuh islam sendiri untuk mengembosi atau bahakan memusuhi orang-orang yang secara jelas dalam hadits diatas menyampaikan kalimat haqq di depan penguasa yang zhalim. Dan akankah orang-orang yang berada di luar parlemen sanggup menyatakan kalimat haqq di depan penguasa yang zhalim dalam banyak kesempatan ? dengan rumitnya birokrasi dan keamanan menkadi sulit orang yang berada di luar parlemen untuk menyatakan kalimat haqq itu. Bukankah allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum kalau mereka tidak mengubahnya sendiri.

Alasan berikutnya tentang alas an bolehnya kita terlibat di parelemen,sebagaimana termaktub dalam al-quran tentang kisah nabi yusuf as ia memegang jabatan menteri kas Negara untuk raja mesir,bahkan memintanya kepadanya untuk di beri jabatan itu,padahal raja dan kaumnya adalah orang-orang kafir seperti yang di firmankan oleh allah, “dan sesungguhnya telah datang yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan,tetapi seantiasa kamu dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu”(QS almukmin:34). Demikian pula najasi yangmelaksanakan keislamannya sesuai dengan apa yang di sanggupinya, “bertaqwalah pada allah sesuai dengan batas kesangguoanmu”

Dan ini adalah pendapat yang jernih serta bernas dari ulama pendahulu kita yaitu syaikhul islam Ibnu taimiyah dan dengan demikian telah jelaslah bahwa pendapat aktifis islam pada zaman ini bukanlah pendapat baru melainkan megnikuti jejak para pendahulunya.

To be continued

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Maret 26, 2010 in arikel politik

 

One response to “seputar pertanyaan tentang demokrasi (part 1)

  1. Mau tanya

    Juni 11, 2010 at 9:44 pm

    Kisah-kisah nabi dan Rosul di dalam Al-Qur’an adalah pelajaran bagi kita, namun sepengetahuan saya Nabi muhammad SAW tidak memerintahkan umatnya untuk mengikuti syari’at Nabi-nabi terdahulu. Yang Rosululloh perintahkan adalah hanya mengikuti syariat Beliau saja, kalau toh ada syariat seperti syari’at Nabi terdahulu, misalnya ibadah haji (syari’at nabi ibrahim) pasti Beliau akan menetapkannya. Bahkan Rosul sendiri melarang Umar bin Al-Khothob mempelajari Injil yang notabene risalah Nabi Isa. Jadi menurut pendapat saya Kisah Nabi yusuf tidak dapat dijadilan dalil diperbolehkannya masuk parlemen.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: