Trias Politika Versi Al-Qur’an
Perubahan dan Trias Politika versi al-Qur’an
Dalam selaksa pengetahuan kita tentang demokrasi di dalamnya terdapat ajaran yang menjadi tradisi politik dalam kancah nation-state yang demokrastis, yakni istilah trias politika. Kita diajarkan untuk mengetahui, memahami, dan (bahkan, dulu) disuruh utk menghapalkannya dan kerja-kerjanya. Seakan perubahan sosiopolitik ditentukan oleh tiga kekuatan: legislatif, eksekutif, dan yudikatif, itu. Kenyataan selalu berkata lain, bahwa perubahan dalam sebuah bangsa tidak selalu bermuara dari tiga poros tersebut. Apa yang terjadi saat ini di negeri kita, tiga institusi itu tidak lebih hanya sebagai wujud dari formalisme berdemokrasi. Sehingga kita akan dikecewakan dengan ketidakoptimalan atau penyimpangan-penyimpangan yang mereka lakukan, bahkan pikiran dan perasaan kita disibukkan untuk memikirkan tiga institusi itu. Sebenarnya ada yang lebih signifikan yang harus kita cermati, bahkan hal inilah yang harus selalu diwaspadai jika tida diambil alih.
Jika kita menelaah al-Qur’an, maka akan ditemukan bahwa al-Qur’an pun ikut berbicara mengenai trias politika. Namun trias politika yang dimaksud berbeda daripada umumnya. Jika Al-Qur’an berbicara politik, akan kita temukan betapa realistisnya Allah menyingkap siapa saja para pemain yang melakukan perubahan dalam konstalasi kekuasaan tinimbang konseptual. Isyarat ini membawa kita ke alam pikiran untuk mengambil sikap dan langkah yang lebih strategis. Bahkan hal ini juga yang diprioritaskan lawan peradaban umat, yang kini tengah merajalela, tidak sekedar dunia, tetapi juga Indonesia.
Di beberapa ayat akan kita temukan bahwa ketiga kekuatan itu selalu disandingkan. Jadi ini menunjukkan satu sama lain saling bekerjasama, berjalin berkelindan, bersatu secara harmoni, hingga sangat tidak mungkin satu sama lain dilerai, tanpa salah satunya yang terjadi adalah keterpurukan dan ketidakberwibawaan kekuasaan. Pertanyaannya, siapa sajakah ketiga kelompok itu?
Ketiga kelompok itu adalah penguasa, pengusaha, dan militer. Dengan ekstrem al-Qur’an mentamsilkannya, bahwa ketiga kekuatan itu telah mencapai puncaknya pada tiga orang: Fir’aun, Qarun, dan Hamman.
Pertama, Fir’aun, seorang penguasa yang absolut, hingga mengklaim dirinya sebagai tuhan dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.
Kedua, Qarun, seorang pegusaha yang kaya raya, hingga manusia jaman kini pun jika menemukan harta (peti) terpendam akan menyebutnya “ini harta karun”. Puncak kekayaannya digambarkan al-Qur’an bahwa anak kunci gudangnya tidak bisa diangka kecuali oleh 10 orang al-Gojo. Jika anak kuncinya sebesar itu, apalagi ukuran gudang dan jumlah kekayaannya.
Ketiga, Hamman wa junuduhu, seorang panglima militer yang tangguh. Kekuatan militer yang dimilikinya ini menjadikan kerajaannya kokoh dan nyaris tidak ada isu-isu perlawanan dari kerajaan yang lain. Tidak ada power tandingan yang berani berhadapan dengan pemerintahan Fir’aun, selain dari gerakan profetik. Yang cukup unik dari Hamman ini adalah dwifungsinya. Al-Qur’an mengkisahkan, bahwa Fir’aun setelah didakwahi oleh nabi Musa, memerintahkan Hamman dan tentaranya untuk membuatkan Piramida agar dia bisa melihat Tuhan-nya Musa. Jadi Hamman ini, dia seorang militer sekaligus arsitek.
***
Apa yang harus kita pikirkan di sini adalah bahwa jika kita korelasikan dengan konstalasi perpolitikan Indonesia dan Dunia, maka ketiga poros inilah yang paling menguat kepermukaan. Pemerintah menjadi adidaya karena di balik itu semua didukung oleh para saudagar. Pemerintahan akan berjalan ‘efektif’ jika ditopang oleh kekuatan militer yang handal. Begitu pula negara dikatakan maju jika nampak bangunan-bangunan pencakar langit di kota-kota besarnya yang membuat gengsi antar negara.
Mengapa pornografi dan pornoaksi terus berlanjut dan proses pengaturannya tersendat tiada lain karena masalah ‘pekerjaan’, masalah keterusikkan para pemodal, sebab mereka rugi besar, berapa banyak barang ‘mini’ itu tidak laku jika Peraturan itu menjadi Undang-undang. Betapa terancam bangkrutnya para pemodal itu jika pariwisata dan club-club itu ditutup hingga tidak ada ruang bernapas bagi para pemaksiat itu tinggal di negeri Muslim Indonesia.
Begitu pula dengan kemenangan ExxonMobil dan rencana dibuatnya bandara di dekat Cepu. Tiada lain karena kepentingan kapitalis yang saat ini mereka terancam kehabisan minyak cadangan. Kekuatan militer mereka akan tampak tidak cukup berwibawa jika tidak bisa terbang memantau negeri-negeri tak berdaya itu. Keterancaman hegemoni kekuasaan mereka di dunia ketiga lebih menakutkan, oleh karenanya mereka dengan gencar mengoptimalkan tiga proses itu: lobi-lobi dan dukung mendukung antar kekuasaan dunia, penjarahan kekayaan alam negeri-negeri timur dan selatan dengan jeratan investasi dan hutang, serta kerjasama militer dengan negara-negara tertentu yang dekat dengan pangkalan perang dunia ke-4 esok hari.
***
Tiga poros yang disebutkan al-Qur’an tadi cukup menyentak kita ketika Huntington menyebutkan tiga faktor yang membuat Kejayaan Barat atas Dunia Islam:
Pertama, faktor demografis dan teritorial. Penguasaan warga dunia dengan ekspansi budaya liberalnya serta pencaplokan wilayah dibawah pengawasaan dan penguasaan Barat (apapun alasannya, baik itu demokratisasi di Timteng misalnya, atau ‘modernisasi’)
Kedua, faktor ekonomi melalui kerjasama bisnis dan penyaluran bantuan (hutang) yang pada akhirnya membuat negara peminjam terjerat hutang dan bisa diintervensi secara politik.
Ketiga, faktor militer melalui penaklukan-penaklukannya atas negara-negara yang dianggap memiliki nuklir, kerjasama militer, maupun ekspansi film-filmnya yang membuat negara lain merasa inferior atas kedigdayaan barat.
***
Hal itu juga yang menyentak saya, ketika Condy (panggilan Condoleeza Rise) datang ke Indonesia. ‘Aura’ kehadirannya sudah membawa intervensi politik pada negeri yang tengah berdebat tentang operator Blok Cepu. Di saat kunjungannya, dia menawarkan kerjasama ekonomi dan pelatihan militer bersama, serta dukungan Indonesia pada ‘perdamaian’ dunia atas kemenangan Hammas, nuklir, dan geliat Cina.
***
Satu hal yang menjadi catatan penting bagi kita sebagai aktivis dakwah dan umat Islam pada umumnya adalah mengambil alih kepemimpinan atas tiga poros itu, atau ‘memuslimkan’ para pekerja di ketiga poros itu secara ideologis (keberpihakan), atau mengisi ketiga poros ketiga poros tadi dengan Sumber Daya Muslim yang bercita-cita memenangkan Islam. Allahu A’lam.
( Rijalul imam Ketua Kaderisasi KAMMI Pusat )

